Jejak Kemewahan Hotel Centrum di Jantung Fort de Kock

Oleh: Hasan Achari Harahap

Bukittinggi tidak hanya dikenal sebagai kota perjuangan, tetapi juga sebagai kota wisata. Kota ini berada di ketinggian sekitar 930 meter di atas permukaan laut, sehingga udaranya sejuk dan nyaman. Sejak dulu, Bukittinggi menjadi tempat yang cocok untuk beristirahat dan berlibur.

Kondisi ini sudah berlangsung sejak masa kolonial Belanda ratusan tahun lalu. Pada masa itu, Bukittinggi dikenal dengan nama Fort de Kock. Kota ini menjadi tujuan wisata bagi orang-orang Eropa, terutama yang tinggal di Padang. Mereka biasanya datang saat akhir pekan untuk menikmati udara sejuk dan suasana yang berbeda dari kota tempat tinggalnya, daerah pesisir.

Keadaan ini mendorong tumbuhnya penginapan di Fort de Kock. Dalam peta yang diterbitkan pada Juli 1945, tercatat setidaknya ada empat hotel, yaitu Park Hotel, Empress Hotel, Centrum Hotel, dan Small European Hotel. Hal ini menunjukkan bahwa Fort de Kock memang telah lama menjadi daerah tujuan wisata.

Namun, suasananya tentu berbeda dengan sekarang. Jika hari ini Bukittinggi kerap macet saat akhir pekan dan hari libur, dulu kota ini justru dikenal lebih tenang, memberi ruang bagi para pengunjung untuk benar-benar menikmati waktu beristirahat.

Salah satu hotel yang cukup terkenal pada masa itu adalah Hotel Centrum. Lokasinya berada di kawasan yang kini menjadi Jalan Jenderal Sudirman, tepatnya di seberang Gereja Katolik Bukittinggi. Kini, nama Hotel Centrum nyaris tidak lagi terdengar. Padahal, setiap hari ribuan orang melintas di kawasan itu. Bisa jadi, karena area tersebut kini tertutup pagar, banyak orang mengira tempat itu hanyalah lahan kosong, tanpa mengetahui jejak sejarah yang pernah ada di sana.

Hotel Valmont Tinggi Menjulang Tepat Disebelah Centrum Hotel Di Jalan Jendral Sudirman Bukittinggi

Dulu, Hotel Centrum dikenal sebagai tempat menginap paling mewah di Bukittinggi yang dikhususkan bagi para pejabat, pengusaha kaya, dan turis Eropa. Gedungnya berdiri gagah tepat di pusat kota dengan gaya bangunan Belanda yang khas memiliki jendelanya besar, dinding yang tebal dan atapnya tinggi agar suasana di dalam selalu terasa sejuk. Hotel ini bukan sekadar tempat beristirahat, tapi juga jadi titik kumpul kaum elit untuk berpesta dansa dan menggelar pertemuan resmi.

Sayangnya, nasib hotel ini berubah saat Jepang datang dan mengambil alih gedung tersebut untuk urusan militer. Setelah Indonesia merdeka pun, gedung ini tidak lagi berfungsi sebagai penginapan. Hingga kini, bangunan bersejarah tersebut tampak terbengkalai karena masalah sengketa kepemilikan yang belum juga usai.

Jika kita mengintip melalui Google Maps, lahan hijau di sekitar reruntuhan Hotel Centrum memang tampak seperti “pulau masa lalu” yang terkepung oleh modernitas. Ironisnya, tepat di samping bangunan yang dulunya merupakan hotel nomor satu ini, kini berdiri Hotel Valmont Bukittinggi, sebuah gedung megah delapan lantai yang siap menjadi ikon kemewahan baru di Bukittinggi.

Pemandangan ini menjadi pengingat yang cukup emosional karena hotel centrum yang kini terbengkalai pernah berada di posisi hotel valmont saat ini yang dipuja serta menjadi simbol prestise bukan tidak mungkin ratusan tahun ke depan kemegahan yang kita lihat hari ini akan mengalami nasib yang sama yaitu menua menjadi sejarah dan perlahan terlupakan oleh zaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *