Pegiat TBM, Si Pembelajar Sepanjang Hayat

Oleh: Hasan Achari Harahap

Di tengah tantangan literasi yang masih kita hadapi, kehadiran pegiat Taman Bacaan Masyarakat (TBM) menjadi sangat penting. Mereka tidak hanya menyediakan buku, tetapi juga menjadi penggerak yang mendorong tumbuhnya budaya membaca di tengah masyarakat.

Peran ini membuat menjadi pegiat TBM bukanlah hal yang mudah. Mereka tidak sekadar menyediakan tempat untuk membaca atau meminjam buku, tetapi juga harus aktif menghadirkan berbagai kegiatan literasi yang menarik dan bermanfaat. Karena itu, TBM tidak hanya menjadi ruang baca, tetapi juga ruang belajar dan ruang bertumbuh bagi masyarakat.

Seiring dengan peran tersebut, pegiat TBM juga dituntut mampu menempatkan diri di tengah masyarakat. Mereka sering dipandang sebagai contoh dalam gerakan literasi, terutama dalam hal membaca dan menulis. Bahkan, dalam banyak hal, pegiat TBM menjadi pelopor dalam upaya pemberdayaan masyarakat di lingkungannya.

Dengan semua peran dan harapan itu, muncul pertanyaan yang perlu kita renungkan bersama: apakah label sebagai pegiat TBM yang diberikan oleh masyarakat sudah benar-benar sesuai dengan diri kita? Pertanyaan ini penting, karena kualitas gerakan literasi sangat ditentukan oleh kemampuan orang-orang yang menggerakkannya.

Karena itu, menjadi pembelajar sepanjang hayat adalah keharusan bagi setiap pegiat TBM. Kita tidak boleh cepat merasa cukup dengan apa yang sudah dimiliki. Ilmu pengetahuan terus berkembang, begitu juga tantangan zaman yang semakin kompleks.

Pegiat TBM tidak boleh hanya “bergerak” tanpa arah yang jelas. Gerakan yang baik harus didukung dengan pengetahuan dan kemampuan yang terus diasah. Dengan begitu, kita bisa memahami masalah yang ada di masyarakat dan menghadirkan program yang tepat serta berdampak.

Jangan sampai kita hanya sibuk beraktivitas, tetapi tidak mampu mengukur hasilnya. Belajar tentang perencanaan dan program berbasis masalah menjadi penting agar setiap langkah yang kita ambil benar-benar membawa perubahan.

Pegiat TBM harus terus belajar agar tetap relevan. Jangan seperti lilin yang hanya memberi cahaya dengan mengorbankan dirinya. Jadilah seperti matahari yang terus memberi terang, karena memiliki sumber energi yang tidak pernah habis.

Selain itu, penting bagi pegiat TBM untuk terus meningkatkan kapasitas, terutama dalam literasi dasar seperti membaca dan menulis. Jangan sampai kita justru ikut menyebarkan hoaks di WA Group hanya karena tidak membaca secara utuh atau jangan pula sibuk mempertanyakan hal-hal yang sebenarnya sudah dijelaskan, misalnya saat sosialisai bantuan program pemerintah.

Hal-hal seperti ini mungkin terlihat sepele, tetapi sangat disayangkan jika terjadi pada seseorang yang dilabeli sebagai pegiat literasi. Karena itu, memperkuat kemampuan membaca dan memahami informasi menjadi bagian penting dari tanggung jawab kita.

Tetaplah semangat belajar dan terus memberi dampak, wahai pegiat TBM.

Salam literasi!

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *