Tan Malaka, Hasan dan Madilog

Oleh Hasan Achari Harahap

Tulisan ini saya susun sebagai refleksi sekaligus upaya membandingkan cara berpikir seorang akademisi yang, menurut saya, melontarkan pernyataan yang berpotensi membahayakan akidah. Di sisi lain, tulisan ini juga menjadi ikhtiar pribadi dalam menjaga generasi, terutama anak saya, dari pengaruh pemikiran yang sejak masa awal Islam pasca era Khulafaur Rasyidin telah menjadi perdebatan, bahkan oleh sebagian ulama dinilai menyimpang.

Tanpa bermaksud mengurangi ketokohan Tan Malaka sebagai pejuang bangsa dari Minangkabau, saya memandang bahwa setiap gagasan harus diuji secara kritis, terutama ketika bersentuhan dengan wilayah keyakinan.

Tulisan ini berangkat dari sebuah pernyataan dalam video singkat yang disampaikan oleh Hasan Nasbi, yang kebetulan memiliki nama yang sama dengan saya. Dalam video tersebut, ia menyatakan bahwa jika cara berpikir dalam buku Madilog diaktualisasikan, Indonesia berpotensi menjadi negara maju. Ia juga menambahkan bahwa dengan pola pikir tersebut, tidak akan ada lagi anggapan bahwa bencana alam terjadi karena kurangnya ibadah, tidak ada lagi praktik ruwatan, serta tidak ada lagi kepercayaan tentang penguasa laut selatan yang mengamuk.

Pernyataan ini tampak menarik, namun sekaligus menyisakan persoalan yang tidak sederhana. Saya ingin menyoroti secara khusus pandangan yang menolak keterkaitan antara bencana alam dan jarangnya ibadah. Dalam penjelasannya, ia menggunakan tiga analogi, tetapi menurut saya, analogi pertama justru tidak sejalan dengan dua analogi berikutnya. Di sinilah letak persoalan yang perlu dicermati secara lebih mendalam.

Jika kita sepakat bahwa Madilog mendorong masyarakat meninggalkan cara berpikir mistis menuju rasionalitas, maka diperlukan ketelitian dalam mendefinisikan apa yang dimaksud dengan mistis. Pertanyaannya, apakah mengaitkan bencana dengan aspek spiritual, seperti kurangnya ibadah, secara otomatis dapat dikategorikan sebagai cara berpikir mistis. Bagi seorang muslim, pertanyaan ini tidak dapat dijawab secara sederhana.

Dalam tradisi keislaman, hubungan antara perilaku manusia dan peristiwa alam bukan sekadar mitos, melainkan bagian dari keyakinan teologis yang memiliki landasan kuat dalam ajaran agama. Oleh karena itu, menyederhanakan persoalan tersebut sebagai cara berpikir yang harus dihilangkan justru berpotensi melampaui batas akidah.

Saya juga mempertanyakan penafsiran yang menyatakan bahwa gagasan Tan Malaka dalam Madilog, sebagaimana diinterpretasikan oleh Hasan Nasbi, mencakup seluruh aspek yang berkaitan dengan keyakinan. Bisa jadi yang dimaksud Tan Malaka terbatas pada praktik-praktik mistis yang berkembang pada masanya di Nusantara. Karena itu, diperlukan kehati-hatian dalam menarik kesimpulan agar tidak terjadi penyederhanaan yang berlebihan.

Pertanyaan tentang apakah anggapan bahwa jarangnya ibadah dapat berkaitan dengan terjadinya bencana termasuk dalam kategori mistis perlu dijawab secara cermat. Kita tidak boleh tergesa-gesa dalam memaknainya, karena setiap pernyataan memiliki konsekuensi dan akan dipertanggungjawabkan, terlebih jika bertentangan dengan sumber utama ajaran Islam, yaitu Al-Qur’an dan hadis.

Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an, surat Ar-Rum ayat 41:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar.”

Ayat ini menegaskan bahwa dalam pandangan Islam terdapat hubungan antara perilaku manusia dan kondisi alam. Banyak ayat lain yang menguatkan hal serupa, sehingga tidak menyisakan keraguan bagi orang yang meyakininya.

Semoga kita semakin berhati-hati dalam bersikap dan menyampaikan pernyataan, karena setiap kata yang terucap pada akhirnya akan dimintai pertanggungjawaban.

1 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *