Keajaiban Suara Ibu: Mengapa Anak Tetap Rindu Dibacakan Nyaring?

Read aloud atau membacakan nyaring bukan sekadar aksi membawa buku ke mana-mana dan bersuara nyaring di hadapan anak. Di balik gerakan ini, Komunitas Read Aloud Pasbar sedang menanam benih-benih kecintaan terhadap literasi. Misi kami jelas: membuat anak-anak ketagihan membaca, sekaligus mendorong guru dan orang tua hadir sepenuhnya dalam dunia anak melalui lantunan cerita yang dihidupkan bersama—guru kepada muridnya, serta orang tua kepada anak-anak mereka.

Gerakan read aloud tidak berhenti hanya sekadar membacakan buku dan bergembira ria. Di dalamnya, ada kegiatan yang namanya bookish play, yaitu anak-anak diajak melakukan aktivitas permainan kreatif yang dirancang berdasarkan cerita dari buku yang baru saja dibaca. Melalui bookish play, anak-anak diajak bereksplorasi, membuat kerajinan tangan, atau bermain peran (roleplay). Kegiatan ini sangat bermanfaat untuk memperkuat pemahaman isi cerita, mengasah motorik, menstimulasi imajinasi, serta membuat interaksi dengan buku menjadi semakin hidup dan menyenangkan.

Ada pula hal penting yang tidak boleh kita tinggalkan, yaitu telaah kalimat sederhana. Sebelum membacakan sebuah buku, seorang pembaca buku harus terlebih dahulu menelaah isi buku tersebut. Kita perlu menyiapkan pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan setelah membaca. Pertanyaan yang disiapkan diusahakan berupa pertanyaan terbuka, bukan pertanyaan “mati” yang hanya bisa dijawab “ya” atau “tidak”. Pertanyaan terbuka akan memicu ide-ide baru yang membuka ruang diskusi hangat antara pembaca dan anak. Selain itu, pembaca buku juga mencatat kata-kata sulit yang mungkin belum diketahui anak, sehingga kegiatan ini efektif menambah perbendaharaan kata (kosakata) mereka. Persiapan-persiapan ini tentunya sangat perlu. Seseorang yang akan membacakan nyaring harus membaca dan memahami buku yang akan dibacakan terlebih dahulu agar tidak terjadi kesalahan dalam intonasi, serta bisa menyediakan pemantik diskusi yang kaya.

 

Lantas, apa tujuan utama dari read aloud? Selain menumbuhkan minat baca dan melatih kemampuan menyimak anak, tujuan utamanya adalah menguatkan bonding (ikatan emosional) antara orang tua dengan anak, serta guru dengan murid. Read aloud juga membantu meningkatkan rentang fokus, merangsang imajinasi, serta mengasah kecerdasan emosional (EQ) anak sejak dini.

Selain itu, mengapa anak-anak kerap lebih suka dibacakan atau read aloud oleh ibu dibanding ayah?

Berbeda dengan mendengarkan acara bertutur atau mendongeng—di mana anak-anak akan menikmati siapa pun pembicaranya, baik laki-laki maupun perempuan, karena itu merupakan sebuah aksi panggung—read aloud justru lebih dekat ke tujuan utamanya, yaitu membangun bonding. Anak-anak akan lebih suka dibacakan nyaring oleh ibunya karena suara ibu memiliki frekuensi dan nada alami yang secara psikologis memberi rasa aman, ketenangan, serta kenyamanan yang khas bagi anak.

Bahkan, anak-anak yang notabene sudah mahir dalam membaca—seperti anak SD kelas tinggi bahkan anak tingkatan SMP—sesekali masih meminta dibacakan oleh ibunya di malam hari. Hal ini terjadi pada anak saya sendiri. Awalnya saya bertanya-tanya dalam hati dan menganggap dia sedang malas untuk membaca. Ternyata tidak sama sekali.

Ketika saya mendengarkan materi dari Ibu Roosie Setiawan (Founder Read Aloud Indonesia), ternyata ada makna mendalam di baliknya. Anak sedang rindu memori-memori masa kecilnya ketika mereka dibacakan oleh ibunya. Anak rindu sentuhan dan bisikan lembut di telinganya saat mungkin dia sedang capek di sekolah atau mulai lelah dengan pelajaran-pelajaran yang semakin berat. Dia ingin kembali menikmati dan bernostalgia dengan masa kecilnya bersama sang ibu. Kemudian setelah membaca, anak akan terlelap mengenang masa kecil yang indah dan akan terbangun dengan perasaan yang lebih lapang dan bahagia. Begitulah read aloud, tidak sekadar membacakan nyaring, namun ada makna emosional yang sangat mendalam.

Semarak gerakan ini pun semakin terasa nyata di lapangan. Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional yang jatuh pada tanggal 23 Juli 2026, Komunitas Read Aloud Pasbar menggelar kegiatan membacakan nyaring serentak. Kegiatan ini dilaksanakan di seluruh SD binaan Ibu Pengawas Puspa Dani, S.Pd., yang juga merupakan Pembina Komunitas Read Aloud Pasbar. Selain itu, Bunda Fera Susanti turut menginstruksikan kepada seluruh Sahabat Read Aloud Pasbar untuk bergerak membacakan nyaring, baik di sekolah masing-masing maupun di taman bacaan. Apalagi rata-rata Sahabat Read Aloud Pasbar juga mengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM).

Alhamdulillah, kegiatan ini disambut dengan luar biasa antusias. Puluhan sekolah dasar dan taman bacaan turut menggelar aksi membaca nyaring yang dibawakan langsung oleh para guru maupun pengelola TBM. Semaraknya kegiatan ini menunjukkan bahwa Komunitas Read Aloud Pasbar sedikit demi sedikit mulai menunjukkan pergerakan ke arah yang sangat positif.

Ratusan anak berhasil disasar oleh kegiatan ini. Terlebih dari itu, sebenarnya target utamanya adalah para guru dan orang tua agar terbiasa membacakan buku kepada anak. Walaupun pada akhirnya, semua proses ini akan bermuara kepada anak-anak kita, demi lahirnya generasi penerus bangsa yang literat dan siap mencapai Generasi Emas 2045.

Semoga setiap orang tua dan setiap guru di sekolah terus berkomitmen untuk membacakan nyaring kepada anak minimal 15 hingga 30 menit setiap hari. Komunitas Read Aloud Pasbar akan terus berkomitmen dengan moto kami:

“Read Aloud Pasbar: Membacakan Nyaring, Berbagi, Menginspirasi.”

Penulis : Suria Tresna, Sekretaris Read Aloud Pasbar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *