Belajar Membangun Gerakan, Bukan Sekadar Mengelola TBM

Sapo Kawan #10 Mengajak Pegiat Literasi Menjadikan Membaca sebagai Aksi Nyata

Malam itu, layar Instagram Forum TBM Sumatera Barat kembali menjadi ruang perjumpaan para pegiat literasi dari berbagai daerah. Program Sapo Kawan #10 menghadirkan sosok yang tak asing di dunia literasi Sumatera Barat, Dr. Amar Salahuddin, M.Pd., pendiri Rumah Baca Marenda di Kabupaten Dharmasraya sekaligus dosen Universitas Dharmas Indonesia.

Dipandu oleh Khairatul Annisa, obrolan selama hampir satu jam itu tidak sekadar membahas bagaimana mendirikan taman bacaan. Percakapan justru mengalir pada hal yang lebih mendasar yakni bagaimana literasi tumbuh dari kebiasaan kecil, dijalankan dengan hati, lalu berkembang menjadi gerakan yang memberi manfaat bagi banyak orang.

Sejak awal, Amar mengajak peserta kembali menelusuri masa kecilnya. Kegemaran membaca, aktif berorganisasi sejak sekolah, hingga pengalaman mengikuti berbagai kegiatan kepemudaan menjadi fondasi yang perlahan membentuk kecintaannya terhadap literasi. Baginya, kecintaan itu tidak lahir secara instan, tetapi tumbuh melalui pengalaman panjang yang terus dipupuk hingga dewasa.

Semangat itulah yang kemudian melahirkan Rumah Baca Marenda, sebuah komunitas literasi yang mulai dirintis sejak ia menjadi dosen dan secara resmi berdiri pada 2021. Nama Marenda sendiri berasal dari kata marendo yang berarti merangkai atau menyulam. Filosofi tersebut menggambarkan harapan untuk merangkai mimpi, menyalakan semangat belajar, dan menghadirkan literasi hingga ke pelosok Dharmasraya.

Namun, menurut Amar, membangun komunitas tidak cukup hanya dengan menyediakan rak buku dan menggelar kegiatan membaca. Yang jauh lebih penting adalah menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat.

Karena itu, Rumah Baca Marenda mengembangkan konsep sederhana namun kuat: “Baca, Diskusi, Aksi.” Setiap buku yang dibaca tidak berhenti menjadi bahan diskusi, tetapi harus melahirkan tindakan nyata. Jika membaca buku tentang literasi, maka lahirlah pojok baca atau taman bacaan baru. Jika membaca buku kewirausahaan, maka diwujudkan dalam program usaha yang bisa memberi manfaat bagi masyarakat. Bagi Amar, membaca semestinya menghasilkan perubahan.

Flyer Sapo Kawan edisi #10

Obrolan kemudian bergeser pada tantangan yang dihadapi seorang pegiat literasi. Menariknya, Amar justru mengatakan bahwa tantangan terbesar bukanlah kurangnya dukungan atau minimnya fasilitas.

“Bagi saya, tantangan terbesar adalah membagi waktu,” ungkapnya.

Di tengah kesibukannya sebagai dosen, Wakil Rektor, pelaksana harian rektor, pembina organisasi kemahasiswaan, hingga Relawan Literasi Masyarakat (Relima) Perpusnas RI, ia memilih menikmati setiap amanah sebagai bagian dari pengabdian. Pengalaman panjang dalam organisasi membuatnya terbiasa mengatur prioritas dan menyelesaikan tanggung jawab satu per satu.

Menjadi Relawan Literasi Masyarakat pun memberinya pengalaman baru. Ia mengaku harus kembali belajar, terutama ketika diminta melakukan kegiatan membaca nyaring dan mendongeng untuk anak-anak usia dini. Sesuatu yang sebelumnya terasa asing bagi seorang dosen yang terbiasa mengajar mahasiswa, justru menjadi pengalaman yang paling berkesan.

Ia belajar kembali dari berbagai sumber, menyaksikan video, memahami teknik read aloud, hingga akhirnya turun langsung ke sekolah-sekolah PAUD dan SD.

Baginya, melihat mata anak-anak berbinar ketika mendengarkan cerita merupakan kebahagiaan yang sulit digambarkan.

“Kalau ada yang mengundang saya membaca nyaring atau mendongeng, saya datang. Gratis,” katanya sambil tersenyum.

Di balik berbagai aktivitas itu, Amar meyakini bahwa kerja-kerja literasi tidak akan pernah berhasil jika dilakukan sendirian. Kolaborasi menjadi kata kunci. Rumah Baca Marenda tumbuh bersama mahasiswa, organisasi kepemudaan, perpustakaan daerah, pemerintah daerah, hingga komunitas-komunitas lain yang memiliki semangat yang sama.

Menurutnya, semakin luas jejaring yang dibangun, semakin besar pula peluang menghadirkan manfaat bagi masyarakat.

Menjelang akhir diskusi, Amar menyampaikan pesan yang menjadi penutup sekaligus refleksi bagi seluruh peserta.

Ia mengajak semua orang untuk memulai kebiasaan membaca dari hal-hal yang disukai. Ketika kebiasaan itu tumbuh, membaca tidak lagi menjadi beban, melainkan kebutuhan.

Ia juga mengingatkan bahwa buku bukan hanya jendela dunia.

“Dengan membaca kita akan mengenal dunia. Dengan menulis, dunia akan mengenal kita.”

Baginya, bangsa yang besar tidak hanya dibangun oleh orang-orang cerdas, tetapi oleh mereka yang gemar membaca, berpikir kritis, dan berani mewujudkan gagasan menjadi tindakan nyata.

Sapo Kawan #10 akhirnya tidak hanya menghadirkan kisah seorang pegiat literasi. Lebih dari itu, perbincangan tersebut memperlihatkan bahwa gerakan literasi sesungguhnya lahir dari kesediaan untuk terus belajar, bekerja dengan hati, membangun kolaborasi, dan menjadikan setiap bacaan sebagai langkah kecil menuju perubahan.

Di tengah tantangan rendahnya budaya baca, pesan itu menjadi pengingat bahwa komunitas literasi bukan hanya tempat berkumpulnya buku, melainkan ruang tempat gagasan bertumbuh dan aksi nyata dimulai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *