Oleh: Hasan Achari Harahap
Di sebuah jalan berkelok, tepat di depan Kantor Nagari Pasia Laweh, Palupuh, Kabupaten Agam, sebuah rumah baca masih membuka pintunya. Pengunjungnya tidak seramai tahun-tahun sebelumnya, tetapi lampunya belum padam. Rumah itu bernama Rumah Baca Labuah Belok (RBLB). Saat berkunjung pada 27 September 2026 lalu, saya mendapatkan banyak cerita berharga tentang perjuangan sebuah keluarga menjaga api literasi agar terus menyala, meskipun badai dari luar sewaktu-waktu bisa memadamkannya.

Di RBLB, aktivitas pengunjung tetap berlangsung meski jarang diunggah ke media sosial. Rahmi, salah seorang pengurus, mengatakan bahwa mereka terus bergerak semampunya.
“Sebenarnya pengunjung rumah baca tetap ada, walaupun jarang diunggah ke media sosial. Kami bergerak semampunya, walaupun kami tidak dianggap oleh pemerintah nagari,” katanya.
Rumah baca ini bertahan berkat dukungan keluarga besar. Bahkan, bangunan di sebelahnya direncanakan akan dijadikan kafe literasi. Hidayat, salah seorang pengurus RBLB lainnya, menjelaskan rencana tersebut.
“Lokasi ini akan dijadikan coffee shop, dan nantinya diadakan juga diskusi buku untuk para remaja di nagari ini,” ujarnya.
Berbeda dengan RBLB, keadaan di Balai Gurah justru memperlihatkan cerita lain. Sebuah rumah di tepi jalan yang dahulu menjadi simpul literasi bernama Balai Baco Rumah Bako kini tertutup dan tidak lagi berkegiatan.
Sonya, salah seorang pengurusnya, menjelaskan penyebabnya. Para pengurus kini sibuk dengan urusan masing-masing. Ada yang kuliah, menikah, atau bekerja. Sonya sendiri telah menikah dan mengelola pondok tahfiz di Balai Gurah, tidak jauh dari simpul literasi yang dahulu mereka kelola bersama.
“Sekarang kondisi rumah baca tidak seperti dulu, karena para pengurus sudah sibuk masing-masing. Tetapi buku-buku tetap aman. Rencananya akan kami pindah ke tempat yang lebih permanen, tapi masih menunggu pembangunan,” katanya.

Kisah Balai Baco Rumah Bako saya dengar saat berkunjung bersama Pengurus PD Forum TBM Kabupaten Agam pada Minggu, 11 Oktober 2026, dalam kegiatan bertajuk Safari Literasi PD Forum TBM Agam.
Kisah dua rumah baca ini menggambarkan dinamika yang dihadapi simpul-simpul literasi di berbagai tempat. Perjalanan mereka tidak semulus yang dibayangkan. Ada persoalan pendanaan, kurangnya dukungan pemerintah, dan regenerasi pengurus yang terputus. Tantangan yang dihadapi pun berbeda-beda dari satu taman bacaan masyarakat (TBM) ke TBM lainnya.
RBLB dan Balai Baco Rumah Bako sama-sama berdiri dari niat tulus untuk mengabdi kepada masyarakat melalui literasi. Dalam perjalanannya, yang satu terus membuka pintu dengan rencana baru, sementara yang lain berhenti sejenak sambil menunggu tempat yang lebih layak. Buku-bukunya masih terjaga, dan hal itu cukup menjadi alasan bagi para pengurusnya untuk tidak menganggap semuanya telah selesai.
Pada akhirnya, perjalanan yang telah dimulai dalam gerakan literasi tidak mengenal kata padam. Minimnya dukungan pemerintah dan terputusnya regenerasi pengurus tidak serta-merta mematikan api literasi yang telah dinyalakan. Biarlah waktu yang memberikan jawaban atas persoalan-persoalan tersebut. Terus bergerak bersama, terus menjaga harapan, dan menolak padam.

