Berapa Harga Sebuah Prompt?

Oleh: Hasan Achari Harahap

Sepanjang jalan, di pinggir trotoar, persimpangan, dan halaman kantor pemerintah, kita kerap melihat spanduk dan baliho terbentang lebar, menyajikan berbagai informasi sesuai kepentingannya. Pemandangan semacam itu telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat digital hari ini. Tulisan, gambar, infografik, warna, dan beragam gaya desain grafis hadir silih berganti, tetapi terasa begitu biasa. Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya, mengapa karya karya itu belakangan terasa begitu seragam? Mengapa wajah, warna, susunan huruf, bahkan cara sebuah pesan ditampilkan seolah datang dari selera yang sama? Barangkali karena ada tangan yang tak terlihat sedang bekerja di baliknya, kecerdasan buatan yang lebih sering kita sebut AI.

Ternyata, karya yang dihasilkan AI bukan hanya gambar. Video, tulisan, bahkan suara perlahan memenuhi ruang kehidupan kita. AI tidak lagi sekadar sesuatu yang kita dengar dalam percakapan tentang teknologi masa depan. Ia telah hadir dalam keseharian dan menjadi bagian yang semakin sulit dipisahkan dari kehidupan manusia. Bermodalkan sebuah prompt yang kita kirimkan ke pusat data, dalam waktu singkat hasilnya kembali tersaji di hadapan kita. Bisa berupa gambar, video, tulisan, bahkan suara. Kita cukup mengetik beberapa kalimat, lalu mesin bekerja. Begitu sederhana di hadapan kita, tetapi mungkin tidak sesederhana itu di balik layar.

Lalu, pernahkah kita menyadari bahwa setiap kali kita mengirimkan rentetan permintaan kepada ChatGPT, Gemini, dan berbagai aplikasi AI lainnya, ada sesuatu yang ikut bekerja dan harus dibayar, yaitu energi? Menurut International Energy Agency, pusat data di seluruh dunia mengonsumsi sekitar 485 TWh listrik pada 2025. Konsumsi listrik pusat data yang berfokus pada AI bahkan meningkat sekitar 50 persen dalam satu tahun.

Jutaan Chipset ada di Data Center yang membutuhkan energi listrik dan air yang besar

Angka angka itu terasa jauh dari kehidupan kita sehari hari. Ketika kita mengetik sebuah pertanyaan sederhana ke chatbot, yang tampak di hadapan kita hanyalah sebuah kotak percakapan dan jawaban yang muncul beberapa detik kemudian. Di baliknya, ada pusat data dengan mesin mesin yang bekerja, membutuhkan listrik dan sistem pendingin agar perangkat tetap beroperasi. Kita menerima jawaban di layar, tetapi hampir tidak pernah melihat energi yang ikut bergerak di belakang sebuah prompt.

Setiap teknologi baru agaknya selalu membawa dua wajah. Ia membuka kemungkinan sekaligus mengubah sesuatu yang telah lebih dahulu ada. Ketika mesin uap dan mesin mekanis berkembang pada masa Revolusi Industri, pekerjaan yang sebelumnya mengandalkan keterampilan tangan manusia perlahan berpindah kepada mesin. Kini, sesuatu yang serupa kembali kita saksikan dalam bentuk yang berbeda. AI tidak hanya memasuki pekerjaan yang bersifat mekanis, tetapi juga pekerjaan yang selama ini dianggap membutuhkan keterampilan intelektual dan kreativitas. Menulis, mendesain, menerjemahkan, memprogram, dan berbagai pekerjaan lainnya mulai bersentuhan dengan kemampuan mesin.

Dulu, mesin menggantikan sebagian pekerjaan tangan manusia. Kini, mesin mulai menyentuh pekerjaan yang lahir dari pikiran manusia. Di satu sisi, kita menyambutnya sebagai kemudahan. Di sisi lain, muncul pertanyaan tentang pekerjaan, keterampilan, dan masa depan manusia yang menggunakannya. Ketika mesin mesin itu bekerja melalui pusat data yang membutuhkan listrik dan sistem pendingin dalam jumlah besar, pertanyaannya pun menjadi lebih panjang. Bukan hanya tentang pekerjaan apa yang akan berubah, tetapi juga tentang energi apa yang harus kita keluarkan agar perubahan itu terus berjalan.

Mungkin kita memang tidak sedang memilih antara manusia dan mesin. Kita hanya sedang memasuki sebuah zaman ketika setiap kemudahan mempunyai jejak yang tidak selalu terlihat. Kita mengetik sebuah kalimat, mesin menjawab. Kita meminta sebuah gambar, gambar pun hadir. Tetapi di antara permintaan dan jawaban itu, ada listrik yang mengalir, mesin yang bekerja, dan sumber daya yang perlahan kita gunakan.

Entah kelak kita akan menyebutnya harga kemajuan, ongkos peradaban, atau sesuatu yang memang harus dibayar. Yang jelas, setiap kali kita menekan tombol send, ada sesuatu yang bergerak jauh di luar layar. Kita melihat jawaban datang kepada kita dalam hitungan detik, tetapi mungkin belum sempat bertanya dari mana energi itu datang dan ke mana jejaknya pergi.

Barangkali, suatu hari nanti, ketika kita kembali melewati spanduk spanduk di sepanjang jalan dan melihat wajah wajah yang lahir dari kecerdasan buatan, kita tidak hanya akan bertanya siapa yang membuatnya. Mungkin kita juga akan bertanya, berapa banyak energi yang digunakan untuk membuatnya hadir di hadapan kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *