Oleh: Hasan Achari Hrp
Pada akhir abad ke-19, Tanah Deli sedang mengalami perubahan besar. Perkebunan tumbuh, perdagangan semakin ramai, pendatang berdatangan, dan Medan perlahan berkembang menjadi pusat aktivitas ekonomi di Sumatra Timur.
Di tengah perubahan itu, muncul sebuah nama yang kemudian menjadi bagian penting dari sejarah ekonomi Medan: Tjong A Fie.
Jauh sebelum istilah “9 Naga” merebak di masyarakat sebagai sebutan populer untuk kelompok pengusaha atau konglomerat yang dianggap memiliki kekayaan, jaringan bisnis, dan pengaruh ekonomi yang besar, Tanah Deli telah lebih dahulu memiliki kisah tentang seorang pengusaha keturunan Tionghoa dengan jaringan bisnis yang luas.
Tjong A Fie membangun usahanya di berbagai sektor, mulai dari perkebunan, real estat, pertambangan, perbankan, pertokoan, kereta api, hingga komoditas seperti tembakau, teh, karet, kelapa, sawit, dan gula.
Namun, kemunculan Tjong A Fie tidak bisa dilepaskan dari perubahan besar yang sedang terjadi di Tanah Deli pada pertengahan abad ke-19.

Saat itu, Deli mulai berkembang menjadi salah satu pusat perkebunan penting di Sumatra Timur. Pengusaha Belanda Jacobus Nienhuys memperoleh konsesi tanah dari Sultan Mahmud Perkasa Alam untuk menanam tembakau. Ternyata, tembakau Deli memberikan hasil yang sangat baik dan kemudian menjadi salah satu penopang utama perkembangan ekonomi perkebunan di kawasan tersebut.
Aktivitas perkebunan semakin berkembang. Nienhuys kemudian membawa aktivitas perusahaannya semakin dekat ke kawasan Medan Putri. Pada 1869, kantor Deli Maatschappij dipindahkan dari Labuhan ke Medan. Perpindahan ini menjadi salah satu penanda semakin pentingnya Medan sebagai pusat aktivitas ekonomi di Tanah Deli.
Di tengah geliat ekonomi perkebunan itulah Tjong A Fie datang dari Guangdong, Tiongkok, ke Medan. Ia tiba ketika ekonomi perkebunan Deli sedang berkembang pesat. Tjong A Fie tidak langsung menjadi pengusaha besar. Perjalanannya dimulai dari bawah, sebagai seorang pekerja di toko dalam jaringan usaha kakaknya, Tjong Yong Hian.
Dari dunia perdagangan itulah perjalanan Tjong A Fie perlahan berkembang. Ia kemudian membangun jaringan usaha sendiri dan masuk ke berbagai sektor yang tumbuh seiring perkembangan Tanah Deli. Dalam beberapa dekade, namanya tidak lagi hanya dikenal sebagai seorang pedagang Tionghoa di Medan. Jaringan bisnisnya semakin luas dan menyentuh berbagai bidang kehidupan ekonomi di Tanah Deli.

Menariknya, perjalanan Tjong A Fie menunjukkan bahwa kemunculan pengusaha besar di Medan pada masa itu tidak berdiri sendiri. Ada sebuah ekosistem ekonomi yang sedang tumbuh yaitu perkebunan tembakau, perdagangan, pembangunan kota, arus pendatang, jaringan transportasi, dan hubungan antara berbagai kelompok masyarakat.
Tanah Deli sedang berubah.
Dan di tengah perubahan itulah, seorang pendatang dari Guangdong membangun namanya, dari seorang pekerja di toko milik keluarganya hingga menjadi salah satu tokoh bisnis paling dikenal dalam sejarah Medan. Jauh sebelum istilah “9 Naga” dikenal luas, Tanah Deli telah memiliki kisahnya sendiri tentang seorang pengusaha keturunan Tionghoa dengan jaringan bisnis yang begitu luas. Tjong A Fie.
