Oleh: Hasan Achari Harahap
Mungkin tidak apple to apple jika membandingkan tim nasional sepak bola dengan sebuah organisasi literasi seperti Forum TBM. Namun, banyak hal yang dapat dipelajari dari perjalanan tim nasional sepak bola berjuluk Tim Tango, yaitu Timnas Argentina, yang akan bertanding pada partai final melawan Spanyol dalam ajang Piala Dunia 2026 pada Minggu dini hari nanti.

Forum TBM sebagai organisasi literasi yang memiliki ribuan anggota dan telah berusia 21 tahun seharusnya memperhatikan bagaimana masyarakat Argentina mencintai sepak bola. Di Argentina terdapat sebuah ungkapan yang populer, yaitu “En Argentina, el fútbol se vive, no se mira,” yang berarti, “Di Argentina, sepak bola dijalani, bukan hanya ditonton.” Ungkapan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Argentina telah mencintai sepak bola sejak usia dini, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa sepak bola telah menjadi identitas nasional sekaligus bagian dari budaya masyarakat Argentina.
Bagaimana sepak bola menjadi identitas nasional di Argentina merupakan hal yang sangat menarik untuk dibicarakan. Lebih dari itu, kondisi tersebut juga menjadi pekerjaan rumah yang penting bagi Forum TBM dalam menggerakkan roda organisasinya. Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA), yang berdiri pada tahun 1893 dan menjadi salah satu asosiasi sepak bola tertua di dunia, secara konsisten mengampanyekan sepak bola dari generasi ke generasi. Salah satu contohnya adalah seorang ayah yang menjadi pendukung Boca Juniors akan mengenalkan klub tersebut kepada anaknya sejak kecil. Selain itu, masyarakat mengenakan jersey biru-putih ketika mendukung tim nasional Argentina serta menyanyikan lagu kebangsaan dengan penuh semangat setiap kali tim nasional bertanding.
Forum TBM seharusnya belajar dari Timnas Argentina tentang bagaimana sebuah identitas dibangun, diperkuat, dan terus dikumandangkan secara berkelanjutan sehingga mampu menumbuhkan rasa cinta, rasa memiliki, dan kebanggaan terhadap organisasi. Pertanyaannya, dengan jumlah anggota yang telah mencapai sekitar 3.982 TBM (data https://forumtbm.vercel.app/), sudahkah kita benar-benar bangga terhadap motto Forum TBM? Mungkin jawabannya belum. Sebab, bagaimana mungkin rasa bangga itu tumbuh apabila sebagian besar anggota bahkan tidak mengetahui motto organisasi yang mereka naungi?
Ironisnya, motto Forum TBM yang telah disepakati secara konstitusional dalam Musyawarah Nasional (Munas) V Forum TBM Tahun 2025 justru tidak pernah dikampanyekan secara konsisten oleh pengurus Forum TBM. Motto “Membaca Bersama, Bergerak untuk Semua” tidak pernah disebarluaskan melalui kanal-kanal resmi organisasi. Bahkan, penegasan mengenai pentingnya penggunaan motto tersebut belum menjadi perhatian utama para pengurus Forum TBM. Akibatnya, motto yang seharusnya menjadi identitas sekaligus pemersatu organisasi belum mampu hidup dalam keseharian anggotanya maupun menjadi kebanggaan bersama.

Tim Tango memiliki sejarah panjang dalam kancah sepak bola dunia. Tim ini telah melahirkan banyak bintang yang namanya tetap dikenang hingga saat ini. Siapa yang tidak mengenal Diego Maradona, “The Golden Boy”, yang mengantarkan Argentina meraih trofi Piala Dunia FIFA untuk kedua kalinya pada tahun 1986. Setelah era Maradona, lahir generasi berikutnya yang hingga kini masih menjadi ikon sepak bola dunia. Siapa lagi kalau bukan Lionel Messi, yang dijuluki “La Pulga” (Si Kutu) sekaligus “The GOAT” (Greatest of All Time). Pada Minggu dini hari nanti, Messi akan kembali berjuang membawa negaranya meraih trofi Piala Dunia FIFA demi mempersembahkan gelar juara dunia keempat bagi Argentina, setelah sebelumnya berhasil meraih gelar ketiga pada tahun 2022.
Jika berbicara tentang kedua pemain tersebut, tentu kita akan dibuat takjub oleh aksi-aksi mereka di lapangan. Mereka menjadi bintang pada zamannya masing-masing dan mempersembahkan kebanggaan bagi negaranya. Lalu, bagaimana dengan Forum TBM? Dalam dunia literasi, kita juga mengenal banyak tokoh yang dapat disebut sebagai “bintang literasi”, baik di tingkat nasional maupun daerah. Sebagian besar dari mereka bahkan tergabung dalam kepengurusan Forum TBM sebagai Pengurus Pusat (PP), Pengurus Wilayah (PW), maupun Pengurus Daerah (PD).
Pertanyaannya, apakah sinar kebintangan mereka benar-benar menerangi Forum TBM? Ataukah justru hanya bersinar untuk kepentingan pribadi? Kenyataannya, masih banyak figur literasi yang lebih disibukkan dengan penguatan citra personal dibandingkan membangun organisasi. Mereka aktif menghadiri berbagai kegiatan di berbagai daerah dengan membawa identitas sebagai Ketua Forum TBM tingkat wilayah maupun Daerah. Namun, upaya untuk menggalang kekuatan, membangun solidaritas, dan membesarkan Forum TBM sebagai organisasi justru masih sangat minim. Praktik-praktik seperti ini masih sering dijumpai dan menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian serius apabila Forum TBM ingin tumbuh menjadi organisasi yang kuat, berpengaruh, dan dicintai oleh seluruh anggotanya.
Pada akhirnya, Forum TBM perlu belajar dari Tim Tango bukan tentang bagaimana memainkan sepak bola, melainkan tentang bagaimana membangun identitas, menanamkan rasa memiliki, menjaga kebanggaan, dan mengampanyekan nilai-nilai organisasi secara konsisten dari generasi ke generasi. Di usia ke-21 tahun, Forum TBM telah memasuki fase kedewasaan sebagai sebuah organisasi. Oleh karena itu, sudah saatnya seluruh pengurus dan anggotanya tidak lagi hanya menjadi pegiat literasi yang hebat secara individu, tetapi juga menjadi penggerak yang menjadikan Forum TBM sebagai rumah bersama yang dicintai, dibanggakan, dan terus dibesarkan demi mewujudkan masa depan literasi Indonesia yang lebih baik.
Vamos, Argentina!
Vamos, Forum TBM!
