Oleh : Sry Eka Handayani, M.Pd (Founder RBAN dan Ketua PD Forum TBM Agam)
Membaca ibarat membuka jendela yang menghadap ke cakrawala luas kehidupan. Dari lembar demi lembar yang terbuka, mengalir cahaya pengetahuan yang menerangi pikiran dan menumbuhkan kebijaksanaan. Setiap kata yang dibaca menjadi langkah kecil menuju kedewasaan berpikir dan keluhuran budi. Dalam denyut kehidupan bersama, membaca bukan sekadar kebutuhan pribadi, melainkan napas kolektif untuk menumbuhkan kecerdasan dan peradaban bangsa.
Salah satu wujud nyata dari semangat ini adalah hadirnya Taman Bacaan Masyarakat (TBM). TBM bisa dikenal dengan berbagai nama seperti : Rumah Baca, Saung Baca, Teras Baca, Pondok Baca, Pojok Baca, atau Pustaka Bergerak. Apa pun namanya, semuanya memiliki tujuan yang sama mencerdaskan anak bangsa dan memperluas akses literasi bagi masyarakat.

Menurut Direktorat Pendidikan Masyarakat (2009), “Taman Bacaan Masyarakat adalah wadah yang didirikan atau dikelola oleh masyarakat maupun pemerintah yang berfungsi sebagai sumber belajar untuk memberikan akses bahan bacaan yang sesuai dan berguna bagi masyarakat sekitar.”
TBM tumbuh dari partisipasi warga, bukan dari program yang kaku. Ia menjadi ruang belajar nonformal, tempat warga membaca, berdiskusi, berkreasi, bahkan berinovasi. Namun, TBM tidak dapat berjalan sendiri. Ia harus berkolaborasi dengan berbagai pihak seperti Forum Taman Bacaan Masyarakat (Forum TBM), sekolah, pemerintah, dan komunitas lainnya agar dapat berkembang dan berkelanjutan.
Gerakan Literasi Masyarakat merupakan salah satu wujud nyata pembangunan manusia Indonesia yang berdaya. Literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, melainkan kemampuan memahami, menganalisis, serta menggunakan informasi untuk meningkatkan kualitas hidup.
Dalam pelaksanaannya, TBM salah satu ujung tombak gerakan literasi masyarakat di tingkat akar rumput. Melalui TBM, warga mendapat akses bahan bacaan, pelatihan keterampilan, serta kegiatan literasi yang menumbuhkan budaya belajar sepanjang hayat.
Gerakan ini bertujuan menumbuhkan kesadaran literasi sebagai bagian penting dari kehidupan. Masyarakat didorong untuk membaca agar mampu memahami dunia di sekelilingnya dengan lebih luas dan kritis, menulis sebagai sarana menyalurkan gagasan serta memperkaya ruang berpikir bersama, dan berliterasi sebagai bekal untuk menjadi individu yang berdaya, mandiri, serta berkontribusi nyata dalam kemajuan bangsa. Dengan demikian, gerakan ini bukan sekadar ajakan membaca dan menulis, melainkan upaya membangun masyarakat yang cerdas, kreatif, dan berperan aktif dalam kehidupan sosial.
TBM menjadi motor penggerak gerakan literasi karena hadir langsung di tengah masyarakat. Kegiatan di TBM tidak terbatas pada membaca buku, tetapi juga meliputi diskusi, pelatihan menulis, kelas keterampilan, hingga kegiatan sosial.
Perkembangan literasi di Indonesia melalui perjalanan yang panjang dan dinamis. Sejak masa awal kemerdekaan hingga kini, berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan kemampuan baca tulis masyarakat. Sejarah ini menjadi latar belakang lahirnya Taman Bacaan Masyarakat (TBM) dan gerakan literasi nasional yang terus berkembang hingga saat ini.
Pada periode 1948–1960, pemerintah Indonesia melaksanakan Program Pemberantasan Buta Aksara (PBA) secara besar-besaran di seluruh nusantara. Program ini menjadi langkah awal penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Kemudian, pada tahun 1960, Presiden Soekarno mengeluarkan mandat yang dikenal dengan “Komando Presiden” untuk mempercepat pemberantasan buta huruf sebagai bagian dari upaya pembangunan nasional.
Memasuki tahun 1970 hingga 1990-an, upaya pemberantasan buta huruf dilanjutkan melalui berbagai model, seperti Pemberantasan Buta Huruf Fungsional (PBF) dan Program Paket A. Program-program tersebut dinilai berhasil menurunkan angka buta aksara secara signifikan. Atas keberhasilan ini, pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, UNESCO menganugerahkan Achiévena Award pada tahun 1992 karena Indonesia dianggap berhasil mewujudkan masyarakat yang “melek huruf.”
Pada awal 1990-an hingga 2000-an, muncul kesadaran masyarakat, kaum intelektual, dan anak muda untuk mendirikan TBM secara mandiri. TBM kemudian berkembang menjadi pusat belajar (learning center) yang menyediakan ruang belajar kreatif di luar pendidikan formal. Tahun 1992, pemerintah mendirikan Subdirektorat Budaya Baca yang bertugas membina dan mengembangkan TBM di seluruh Indonesia, sehingga gerakan literasi masyarakat semakin terarah dan terorganisasi.
Memasuki tahun 2015 hingga sekarang, penguatan literasi nasional semakin ditekankan melalui berbagai program pemerintah. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan meluncurkan Gerakan Indonesia Membaca dan Kampung Literasi untuk memperkuat peran TBM di berbagai daerah. Selain itu, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa turut membina para pegiat literasi agar mampu mengembangkan komunitas baca yang berdaya. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) juga memperkuat jaringan komunitas literasi di tingkat daerah. Pada tahun 2017, Presiden Republik Indonesia bahkan bertemu dengan para pegiat literasi inspiratif sebagai bentuk apresiasi dan pengakuan terhadap peran masyarakat dalam mencerdaskan bangsa.
Dasar hukum penguatan gerakan literasi ini tercantum dalam Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, yang menegaskan bahwa “pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat mendorong tumbuhnya taman bacaan masyarakat dan rumah baca untuk menunjang pembudayaan kegemaran membaca.” Ketentuan tersebut menjadi fondasi kuat bagi keberlanjutan gerakan literasi di Indonesia, menuju masyarakat yang gemar membaca dan terus belajar sepanjang hayat.
10 Trik Membangun Taman Bacaan yang Berdaya
Mendirikan TBM bukan sekadar menyediakan buku, tetapi membangun ruang belajar yang hidup. Berikut sepuluh trik untuk membangun TBM yang berdaya dan berkelanjutan:
1.Niat dan Tujuan yang Jelas.
Mulailah dengan niat tulus untuk mencerdaskan masyarakat, bukan sekadar membentuk lembaga.
2.Tempat atau Lokasi yang Strategis.
Gunakan ruang publik yang mudah diakses, seperti teras rumah, balai warga, atau pojok sekolah.
- Sumber Daya Manusia yang Peduli.
Libatkan relawan, guru, dan anak muda yang memiliki semangat literasi tinggi. - Pendanaan yang Kreatif.
TBM dapat memperoleh dana dengan menjual produk seperti baju, kopi, atau hasil karya anggota komunitas. - Ketersediaan Bahan Bacaan yang Memadai.
Buku adalah ruh TBM. Kumpulkan dari donasi, penerbit, atau kerja sama dengan perpustakaan daerah. - Program Kreatif dan Inovatif.
Selenggarakan kegiatan seperti lomba baca puisi, kelas menulis, bedah buku, atau pelatihan keterampilan. - Dokumentasi Kegiatan.
Catat dan dokumentasikan setiap kegiatan sebagai bukti kerja nyata sekaligus bahan evaluasi. - Publikasi dan Media Sosial.
Gunakan media sosial untuk berbagi inspirasi, menarik relawan, dan memperluas jangkauan pengunjung. - Kolaborasi dan Advokasi.
Bangun kerja sama dengan Forum TBM, sekolah, pemerintah daerah, dan dunia usaha untuk memperkuat posisi TBM di masyarakat. - Evaluasi dan Regenerasi.
Lakukan penilaian rutin terhadap program dan kegiatan untuk memastikan TBM terus berkembang dan relevan.
Menurut Sry Eka Handayani pemilik dan pendiri Rumah Baca Anak Nagari, dengan menerapkan sepuluh langkah tersebut, TBM tidak hanya berfungsi sebagai tempat membaca, tetapi juga menjadi pusat pemberdayaan masyarakat berbasis literasi.
Menurut Paulo Freire (1970), seorang tokoh pendidikan dunia, “Literasi bukan hanya kemampuan membaca kata, tetapi juga membaca dunia. ” Pernyataan ini menegaskan bahwa literasi memiliki dimensi sosial dan politis. Melalui TBM, masyarakat belajar memahami realitas sosial dan menemukan solusi untuk membangun kehidupan yang lebih baik.
Oleh karena itu, TBM bukan sekadar perpustakaan rakyat, melainkan ruang demokratis tempat masyarakat belajar berpikir kritis, berkolaborasi, dan berkreasi. Semakin banyak TBM yang hidup dan aktif, semakin kuat pula fondasi literasi bangsa.
Taman Bacaan Masyarakat adalah bukti nyata semangat bangsa Indonesia dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Ia tumbuh dari kepedulian masyarakat, bergerak melalui gotong royong, dan hidup melalui kolaborasi.
Rumah baca, saung baca, teras baca, pondok baca, pojok baca, atau pustaka bergerak, semuanya memiliki satu tujuan menciptakan masyarakat yang gemar membaca, berpikir kritis, dan berdaya secara sosial serta ekonomi. Dengan memperkuat kolaborasi, menjaga etika pengakuan terhadap nilai kebersamaan, serta mengembangkan kreativitas dalam setiap kegiatan, TBM akan terus menjadi jantung gerakan literasi masyarakat Indonesia.

