Perjalanan Kemanusiaan Forum TBM ke Palembayan: Dari Doa hingga Tawa Anak-Anak

“Mudah-mudahan hari ini tidak hujan,” ujar Hernan, Sekretaris Forum TBM Sumatera Barat, lirih namun sarat harap. Pagi itu, ia tergabung dalam tim kegiatan psikososial yang bersiap melaju menuju Palembayan.

“Semoga saja cuaca bersahabat. Aamiin,” timpal Bang Dedi, Pengelola Pustaka Kembara Kabupaten Sijunjung, yang turut serta dalam perjalanan kemanusiaan tersebut.

Sepenggal percakapan sederhana itu mengalir di dalam kendaraan, menemani rombongan yang berangkat dari RBAN—titik kumpul keberangkatan—menuju SDN 05 Kayu Pasak, Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam. Jarak sekitar 70 kilometer terasa lebih panjang dari biasanya. Kekhawatiran akan cuaca yang sulit diprediksi menyelinap di benak masing-masing. Sehari sebelum keberangkatan, banjir kembali melanda beberapa wilayah di Kabupaten Agam. Ingatan tentang derasnya air dan kabar warga terdampak membuat perjalanan itu dipenuhi doa-doa yang tak terucap.

Kegiatan ini merupakan bagian dari aksi kemanusiaan Forum TBM Sumatera Barat yang difasilitasi oleh Pengurus Pusat Forum TBM melalui dana open donasi yang dihimpun beberapa pekan sebelumnya. Donasi tersebut diwujudkan dalam bentuk kegiatan psikososial bagi anak-anak terdampak bencana. Program serupa juga dilaksanakan secara serentak oleh Pengurus Wilayah Forum TBM Aceh dan Sumatera Utara—sebuah ikhtiar kolektif untuk menghadirkan kembali senyum dan rasa aman di tengah trauma pascabencana.

Salareh Aia, Salah Satu Lokasi terdampak Bencana Hidrometrologi

Perjalanan menuju lokasi yang ditempuh sekitar dua setengah jam meninggalkan perih di dada. Di kiri dan kanan jalan, rumah-rumah tampak rusak; dindingnya dilumuri lumpur yang telah mengering. Sejumlah warga terlihat membersihkan sisa-sisa endapan, berusaha menyelamatkan apa pun yang masih tersisa dari reruntuhan kehidupan mereka. Di sudut lain, seorang ibu duduk terdiam dengan tatapan kosong. Wajahnya menyimpan duka mendalam setelah kehilangan anggota keluarga yang tersapu galodo. Kesunyian itu berbicara lebih lantang daripada kata-kata, menegaskan bahwa bencana telah merenggut lebih dari sekadar harta benda.

Sesampainya di lokasi, rombongan disambut ratusan anak yang telah memadati musala SDN 05 Kayu Pasak. Keceriaan mereka seolah menunggu untuk dipantik. Ternyata, kawan-kawan pegiat TBM dari Kinali, bersama PMI dan PMR Pasaman Barat, telah lebih dahulu tiba dan memulai sejumlah aktivitas bersama anak-anak.

Foto Bersama Ratusan Anak saat Psikososial di Palembayan

Kegiatan psikososial kemudian dilanjutkan dengan beragam aktivitas, salah satunya membaca nyaring. Bunda Puspa Dani dari TBM Fayyadh, Bunda Fera dari Rumah Baca Bunda, serta Bunda Sry dari Rumah Baca Anak Nagari bergantian membacakan cerita. Anak-anak tampak antusias menyimak setiap kisah yang disampaikan. Buku-buku yang dibacakan merupakan bagian dari Program Bahan Bacaan Bermutu yang difasilitasi oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia—menjadi jendela kecil yang menghadirkan harapan, imajinasi, dan ketenangan di tengah luka pascabencana.

Tak berhenti di situ, kegiatan dilanjutkan dengan permainan seru yang dipandu oleh Hernan. Tawa anak-anak pecah mengikuti setiap instruksi, seolah melupakan sejenak ingatan tentang peristiwa mengerikan yang datang tanpa aba-aba. Pada akhir sesi, anak-anak diajak mewarnai menggunakan kertas bergambar dan pensil warna. Kegiatan kemudian ditutup dengan pembagian paket nasi kotak kepada ratusan anak yang mengikuti kegiatan psikososial tersebut.

“Forum TBM Sumatera Barat berharap kegiatan psikososial ini dapat menghadirkan sedikit keceriaan bagi anak-anak serta membantu mengurangi rasa takut mereka terhadap bencana,” ungkap Hasan, Ketua Forum TBM Sumatera Barat, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pegiat TBM dan Forum TBM di seluruh Indonesia yang telah menunjukkan kepedulian dengan menggalang dana melalui Pengurus Pusat Forum TBM. “Terima kasih kepada kawan-kawan TBM dari berbagai kabupaten dan kota di Sumatera Barat yang telah terlibat dan membersamai kegiatan ini. Semoga kebersamaan ini menjadi penguat bagi anak-anak dan masyarakat yang terdampak,” tutupnya.

Di tengah puing dan lumpur yang belum sepenuhnya kering, kegiatan psikososial itu menjadi ruang kecil bagi anak-anak untuk bernapas lega—mengingatkan kita bahwa membangun kembali jiwa sama pentingnya dengan membangun rumah yang runtuh.

Salam Literasi !

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *