Pemanfaatan Koleksi Weeding Layak Pakai UPT Perpustakaan Universitas Andalas (UNAND) Pascabencana Banjir Bandang di Sumatera Barat

Banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Barat pada 27 hingga 28 November 2025 menjadi peristiwa duka yang menyisakan dampak luas bagi masyarakat. Selain kerusakan infrastruktur, bencana ini turut melumpuhkan sektor pendidikan dan memutus akses masyarakat terhadap sumber informasi dan bahan bacaan. Sekolah-sekolah rusak, perpustakaan dan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) tidak dapat difungsikan, dan ribuan buku hanyut atau rusak akibat terjangan air dan lumpur. Lebih kurang 23 orang meninggal dunia; 12 orang hilang dan ribuan warga terdampak di 9 Kabupaten/Kota di Sumatera Barat (Info Sumbar 29 November 2025). Dalam situasi pascabencana seperti ini, kebutuhan akan literasi sering kali berada di urutan terakhir, padahal literasi memiliki peran penting dalam pemulihan psikososial, pendidikan, dan ketahanan masyarakat.

Sebagai perguruan tinggi tertua dan terbesar di Sumatera Barat, Universitas Andalas memiliki tanggung jawab moral dan sosial dalam merespons kondisi tersebut. Salah satu unit strategis yang dapat mengambil peran nyata adalah UPT Perpustakaan Universitas Andalas. Tidak hanya sebagai pusat layanan informasi akademik, UPT Perpustakaan Unand juga memiliki potensi besar sebagai agen pemulihan literasi pascabencana melalui pemanfaatan koleksi weeding yang masih layak pakai.

Weeding atau penyiangan koleksi merupakan bagian dari manajemen perpustakaan modern untuk menjaga relevansi dan mutu koleksi. Di UPT Perpustakaan Unand, proses weeding dilakukan secara berkala untuk menyeleksi koleksi yang sudah tidak sesuai dengan kebutuhan kurikulum, memiliki edisi lama, duplikasi berlebih, atau tingkat keterpakaian rendah. Namun, penting untuk disadari bahwa “tidak relevan secara akademik” tidak selalu berarti “tidak bermanfaat secara sosial”. Banyak koleksi weeding yang masih layak baca dan justru sangat dibutuhkan oleh masyarakat umum. Hal ini sesuai dengan apa yang dinyatakan oleh Ranganathan (1930), setiap buku ada pembacanya, setiap pembaca ada bukunya. Setiap buku pasti ada peminatnya sehingga para peminat buku dengan subyek yang disenanginya pasti senantiasa mencari buku yang layak untuk dibacanya.

Dalam konteks pascabencana banjir bandang di Sumatera Barat, koleksi weeding layak pakai UPT Perpustakaan Unand dapat menjadi sumber literasi alternatif yang bernilai tinggi. Buku-buku pengetahuan umum, keterampilan hidup, pertanian, kesehatan masyarakat, kewirausahaan, pendidikan keluarga, serta bacaan anak dan remaja merupakan contoh koleksi yang sangat relevan untuk disalurkan ke wilayah terdampak. Kehadiran buku-buku tersebut dapat membantu masyarakat memperoleh informasi, hiburan, dan motivasi untuk bangkit dari keterpurukan akibat bencana.

Pemanfaatan koleksi weeding layak pakai ini sejalan dengan semangat Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. UPT Perpustakaan Unand tidak hanya berperan sebagai pendukung pendidikan dan penelitian, tetapi juga sebagai institusi yang hadir di tengah masyarakat dalam situasi krisis. Melalui redistribusi koleksi weeding, perpustakaan dapat menjembatani kesenjangan akses informasi yang muncul akibat bencana.

Secara praktis, pemanfaatan koleksi weeding pascabencana dapat dilakukan melalui beberapa skema. Pertama, pembentukan pojok baca darurat di posko pengungsian. Anak-anak yang menjadi korban banjir bandang membutuhkan ruang aman untuk belajar dan bermain. Buku cerita, komik edukatif, dan bacaan bergambar dapat berfungsi sebagai media terapi psikososial untuk mengurangi trauma dan kecemasan. Kedua, penyaluran koleksi ke TBM dan Perpustakaan Sekolah yang terdampak. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk menggantikan sementara buku-buku yang rusak atau hilang terbawa arus banjir bandang. Ketiga, koleksi weeding juga dapat dimanfaatkan untuk mendukung pemulihan ekonomi masyarakat. Buku-buku tentang pertanian, peternakan, pengolahan hasil tani, kewirausahaan mikro, dan ekonomi kreatif sangat relevan dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat Sumatera Barat. Dengan memanfaatkan pengetahuan praktis dari buku-buku tersebut, masyarakat terdampak dapat memperoleh inspirasi dan keterampilan baru dalam membangun kembali mata pencaharian mereka.

Agar pemanfaatan koleksi weeding layak pakai berjalan optimal, UPT Perpustakaan Unand perlu memiliki kebijakan yang jelas dan berkelanjutan. Proses weeding sebaiknya tidak hanya berakhir pada pemindahan atau penghapusan koleksi (baca : cleaning database), tetapi juga diikuti dengan klasifikasi dan pengemasan koleksi untuk kepentingan sosial dan kebencanaan. Pembentukan “koleksi tanggap bencana” atau “bank buku kemanusiaan” dapat menjadi langkah strategis agar perpustakaan selalu siap ketika bencana terjadi. UPT.Perpustakaan Unand dapat pula menyalurkan koleksi weeding tersebut melalui Forum TBM untuk selanjutnya buku-buku tersebut didistribusikan ke TBM yang terdampak banjir bandang.

Kolaborasi lintas sektor menjadi faktor kunci keberhasilan program ini. UPT Perpustakaan Unand dapat bekerja sama dengan Forum TBM, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Barat, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan, pemerintah nagari, serta komunitas relawan literasi. Selain itu, pelibatan mahasiswa sebagai relawan distribusi dan pendamping literasi dapat memperkuat dampak program sekaligus menjadi sarana pembelajaran sosial bagi mahasiswa.

Pemanfaatan koleksi weeding juga dapat dikaitkan dengan program literasi kebencanaan. Buku-buku yang membahas lingkungan, perubahan iklim, mitigasi bencana, serta kearifan lokal Minangkabau dalam menghadapi alam dapat dikemas dalam paket bacaan tematik. Program ini tidak hanya berfungsi sebagai upaya pemulihan pascabencana, tetapi juga sebagai langkah preventif untuk meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat terhadap risiko bencana di masa depan.

Tentu saja, terdapat tantangan dalam implementasi pemanfaatan koleksi weeding. Stigma bahwa buku weeding adalah buku “bekas” dan kurang bernilai masih kerap muncul. Selain itu, keterbatasan logistik, pendanaan, dan sumber daya manusia juga menjadi kendala. Namun, dengan pendekatan yang tepat, pengemasan koleksi yang menarik, serta narasi yang menekankan nilai solidaritas dan keberlanjutan, tantangan tersebut dapat diatasi.

Banjir bandang 27–28 November 2025 di Sumatera Barat menjadi pengingat bahwa bencana tidak hanya merusak bangunan, tetapi juga memutus akses terhadap pengetahuan. Dalam situasi ini, UPT Perpustakaan Universitas Andalas memiliki peluang besar untuk menunjukkan peran strategisnya sebagai institusi yang adaptif, peduli, dan berpihak pada masyarakat. Pemanfaatan koleksi weeding layak pakai merupakan langkah konkret, efisien, dan berdampak nyata dalam mendukung pemulihan sosial dan pendidikan pascabencana.

Pada akhirnya, koleksi weeding bukanlah akhir dari perjalanan sebuah buku. Di tangan masyarakat yang membutuhkan, buku-buku tersebut justru menemukan makna baru sebagai sumber harapan, pengetahuan, dan kekuatan untuk bangkit. Melalui inisiatif ini, UPT Perpustakaan Unand dapat menegaskan jati dirinya sebagai perpustakaan perguruan tinggi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berperan aktif dalam memanusiakan dan menguatkan masyarakat Sumatera Barat di tengah dan setelah bencana. Kiranya kita perlu merenungkan kembali quote Zaman Ali (1993), Politisi Pakistan. Kemanusiaan adalah tentang membangun satu sama lain untuk kebaikan.

Ditulis Oleh:

 Iswadi Syahrial Nupin

Ketua Kelompok Pustakawan Universitas Andalas 2022-2025

Ketua Litbang Forum TBM Sumbar 2025-2030

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *