Breivenbus Bukittinggi: Cerita yang Bertahan

Oleh: Hasan Achari Hrp

Masih ingat puluhan tahun silam, ketika saya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama di kota kelahiran—Medan? Setiap kali ingin berkirim kabar, saya berjalan menuju Kantor Pos cabang yang tak jauh dari rumah. Di depan gedung bercat oranye itu berdiri sebuah kotak surat yang menjadi saksi bisu ribuan, bahkan jutaan pesan yang pernah dititipkan kepadanya. Dengan hati-hati saya memasukkan amplop berperangko, berharap kabar sederhana yang saya tulis sampai ke tangan yang tepat.

Potongan ingatan itu kini terasa seperti cuplikan dari masa yang jauh. Saat itu, teknologi informasi belum menguasai kehidupan sehari-hari. Telepon genggam masih menjadi barang mewah, internet hanya istilah yang belum akrab, dan surat adalah jembatan perasaan yang menghubungkan hati, kota, bahkan pulau-pulau yang jauh.

Namun, zaman berubah. Masih adakah anak muda yang berkirim surat hari ini? Mungkin ada, tetapi dapat dihitung dengan jari. Fungsi kantor pos pun bergeser. Antrean panjang kini bukan lagi untuk mengirim surat cinta atau kabar keluarga, melainkan paket belanja daring dan dokumen-dokumen penting. Layanan pengiriman pun tak lagi berada di bawah satu bendera; berbagai perusahaan logistik hadir membawa kecepatan, kemudahan, dan persaingan tarif yang semakin sengit.

Tampak Depan Kantor Pos Indonesia Bukittinggi

Kenangan itu tiba-tiba menyeruak kembali ketika saya mendatangi Kantor Pos Indonesia di Kota Bukittinggi pada 5 Desember 2025 untuk mengantar sebuah dokumen. Saat berdiri di depan bangunan bercat oranye tersebut, pandangan saya langsung tertumbuk pada sebuah objek persegi panjang—tingginya hampir menyamai tinggi saya, sekitar 165–170 sentimeter—yang berdiri kokoh di sisi kanan dan kiri kantor pos.

Tulisan Breivenbus terlihat dari depan dan Pabrik dan tahun pembuatan dari sisi kiri

Dari bentuk dan kondisinya, jelas terlihat bahwa benda itu telah lama berdiri. Pada bagian depannya tertulis “Breivenbus”, yang berarti Kotak Surat Pos, sementara di tengahnya tercetak label NO. 1, NO. 2, NO. 3. Saya melangkah sedikit ke sisi kiri dan menemukan ukiran lain: “DISPENBROCK & REIGERS ULFT 1913.” Itulah nama pabrikan yang memproduksi kotak surat berbahan besi cor tersebut—sepotong artefak yang telah melewati lebih dari satu abad perjalanan waktu.

Seketika, saya merasa seperti berada di antara dua masa—masa ketika surat adalah denyut komunikasi, dan masa kini ketika pesan melesat lebih cepat dari kedipan mata. Breivenbus tua itu berdiri diam, namun kehadirannya seperti membisikkan kisah panjang tentang perjalanan komunikasi dan informasi di negeri ini, dari era kolonial hingga zaman digital yang serba instan.

Bukittinggi sendiri adalah kota yang menyimpan banyak catatan sejarah. Pernah menjadi Ibu Kota Republik Indonesia pada masa Pemerintahan Darurat (PDRI) saat Agresi Militer Belanda II, kota ini juga dikenal lewat ikon Jam Gadang serta sebagai tempat lahirnya salah satu Proklamator bangsa, Bung Hatta. Di antara jejak besar sejarah itu, terselip pula rekam perjalanan komunikasi Indonesia—dua breivenbus berusia lebih dari seabad yang masih berdiri kokoh di kiri dan kanan Kantor Pos Indonesia Kota Bukittinggi, seakan menegaskan bahwa setiap pesan, sekecil apa pun, pernah menjadi bagian penting dari perjalanan sebuah bangsa.

Salam Literasi!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *